Gagasan bahwa video games memilik efek merusak pada anak yang
memainkannya sudah ditampilkan secara luas. Meskipun memberikan cakupan
mengagumkan terhadap dampak-dampak ini, tulisan Kooijmans berjudul “Efek Video
Games terhadap Pikiran dan Perilaku Agresif Selama Masa Perkembangan” meninggalkan sapek positif dari video games.
Tulisan tersebut menjelaskan kegunaan games bagi terapi, pelatihan koordinasi
tangan dan mata, dan stimulasi, tetapi ia tidak membahas efek perkembangan yang
sebenarnya. Video games mengajarkan banyak keterampilan bagi perkembangan anak.
Contoh dari keterampilan ini adalah kemampuan memecahkan masalah, ketekunan,
pola pengakuan, pengujian hipotesis, memperkirakan keterampilan, penalaran
induktif, menejemen sumber daya, logistik, pemetaan, memori, berfikir cepat,
dan keputusan-keputusan bernalar.
Banyak dari keterampilan-keterampilan ini yang bersifat abstrak dan
membutuhkan pemikiran tingkat yang lebih tinggi, yang mana sekolah-sekolah
tidak mengajarkannyakepada anak. Dengan memasukkan cara untuk memilih salah
satu tingkat kesulitan, jika tidak semua ada, dalam semua video games, orang
dapat menyesuaikan tingkat kerumitan tugas-tgas dalam games agar dapat sesuai
dengan keterampilan orang itu sendiri. Setelah tugas-tugas itu terselesaikan
pada tingkat yang rendah, seorang anak akan meras termotivasi untuk berusaha
mencoba tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Dengan perlahan mendaki kesulitan
tersebut, anak mampu menyelesaikan tujuan-tujuan dan belajar ketika
meningkatkan kemampuan dirinya.
Meskipun video games yang tipikal
anak terlihat seperti seorang penyendiri dan anti-sosial, namun video games
mungkin mengajarkan dengan sangat baik pada anak keterampilan-keterampilan
sosial. Jika orang tua penuh perhatian kepada anakmereka, video games dapat
menjadi aktivitas keterikatan yang bagus. Kemungkinan anak akan menjadi lebih
cakap pada games tersebut daripada orang tua, yang membuat anak mengajarkan
orang tua sesekali. Pembalikan peran ini membuat orang tua menjadi paham dengan
sangat baik dengan keterampilan dan bakat sang anak, dan membiarkan anak untuk
belajar membantu orang lain dan berbagi pengetahuan. Selain itu, banyak games
yang melibatkan banyak pemain yang mendorong anak untuk bekerja bersama dalam
mencapai tujuan mereka. Anak belajar mendengar gagasan orang lain,
memformulasikan rencana bersama-sama, dan mendistribusikan tugas berdasarkan
kemampuannya. Video games menciptakan hierarki keterampilan dan kemampuan,
menciptakan sebuah kondisi yang menguntungkan perkembangan kepemimpinan.
Seorang anak mampu mengatur tugas-tugas yang diperlukan sehingga bisa berhasil
dan menjadi lebih cerdas dalam memimpin kerja kelompok di sekolah. Baru-baru
ini, games online bersam orang lain telah menciptakan jenis-jenis games yang
keseluruhannya baru dengan jaringan sosial yang luas dan rumit. Anak menganggap
orang yang tidak pernah melihat sebagai teman dekat. Dengan mengetahui
seseorang secara tepatmelalui sebuah games, anak belajar tentang orang itu
tanpa ada sikap mendangkalkan. Dengan tidak melihat teman-teman mereka, anak
tidak mempertimbangkan ras, gender, atau kebangsaan. Itu benar-benar hubungan
terbuka dengan mendasarkan pada kepentingan bersama.
Terakhir, video games berbau
kekerasan mungkin bertindak sebagai sebuah pelepasan rasa agresi yang tidak
terekspresikan dan rasa frustasi. Tidak ada kejahatan dalam menembak anak orang
lain dalam suatu video games, tapi akan menjadi menjadi akibat yang serius jika
tindakan tersebut dilakukan dalam kehidupan nyata. Dengan menyediakan anak
saluran pelepasan kemarahannya dalam suatu cara yang kontruktif, video games
mampu mengurangi stres anak dan bertindak pada jalur yang positif. Anak tidak
lagi melempar kemarahannya atau memerangi saudaranya tapi secara pasif
melampiaskan frustasi mereka pada dunia virtual. Banyak orang tua menganjurkan
bermain games olahraga seperti sepak bola sebagai saluran agresinya, yang jauh
lebih keras daripada bermain sebuah games. Dalam olahraga, anak dipaksa untuk
secara fisik melukai seseorang. Sebagaimana Tapscott (1988) menyatakan “Membawa
anak dalam suatu pengalam interaktif, mengembangkan keterampilan motor
tanganmatanya, memberikan anak sebuah rasa penyelesaian, menjaga anak agar
tidak terliabat di jalanan, dan hanya
mendorongnya untuk bersenang-senang, semuanya dipertimbangkan orang tua
untuk bisa berharga atau , buruknya, tidak membahayakan.”
Sumber: Sokolova, Irian V.,
dkk.2008. Kepribadian Anak.
Yogyakarta: Katahati.
0 comments:
Post a Comment