SELAMAT DATANG DI BLOK SAYA! SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA BERMANFAAT!!
RSS

Efek Positif Video Games terhadap Perkembangan Anak


Gagasan bahwa video games memilik efek merusak pada anak yang memainkannya sudah ditampilkan secara luas. Meskipun memberikan cakupan mengagumkan terhadap dampak-dampak ini, tulisan Kooijmans berjudul “Efek Video Games terhadap Pikiran dan Perilaku Agresif Selama Masa Perkembangan”  meninggalkan sapek positif dari video games. Tulisan tersebut menjelaskan kegunaan games bagi terapi, pelatihan koordinasi tangan dan mata, dan stimulasi, tetapi ia tidak membahas efek perkembangan yang sebenarnya. Video games mengajarkan banyak keterampilan bagi perkembangan anak. Contoh dari keterampilan ini adalah kemampuan memecahkan masalah, ketekunan, pola pengakuan, pengujian hipotesis, memperkirakan keterampilan, penalaran induktif, menejemen sumber daya, logistik, pemetaan, memori, berfikir cepat, dan keputusan-keputusan bernalar.
Banyak dari keterampilan-keterampilan ini yang bersifat abstrak dan membutuhkan pemikiran tingkat yang lebih tinggi, yang mana sekolah-sekolah tidak mengajarkannyakepada anak. Dengan memasukkan cara untuk memilih salah satu tingkat kesulitan, jika tidak semua ada, dalam semua video games, orang dapat menyesuaikan tingkat kerumitan tugas-tgas dalam games agar dapat sesuai dengan keterampilan orang itu sendiri. Setelah tugas-tugas itu terselesaikan pada tingkat yang rendah, seorang anak akan meras termotivasi untuk berusaha mencoba tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Dengan perlahan mendaki kesulitan tersebut, anak mampu menyelesaikan tujuan-tujuan dan belajar ketika meningkatkan kemampuan dirinya.
Meskipun video games yang tipikal anak terlihat seperti seorang penyendiri dan anti-sosial, namun video games mungkin mengajarkan dengan sangat baik pada anak keterampilan-keterampilan sosial. Jika orang tua penuh perhatian kepada anakmereka, video games dapat menjadi aktivitas keterikatan yang bagus. Kemungkinan anak akan menjadi lebih cakap pada games tersebut daripada orang tua, yang membuat anak mengajarkan orang tua sesekali. Pembalikan peran ini membuat orang tua menjadi paham dengan sangat baik dengan keterampilan dan bakat sang anak, dan membiarkan anak untuk belajar membantu orang lain dan berbagi pengetahuan. Selain itu, banyak games yang melibatkan banyak pemain yang mendorong anak untuk bekerja bersama dalam mencapai tujuan mereka. Anak belajar mendengar gagasan orang lain, memformulasikan rencana bersama-sama, dan mendistribusikan tugas berdasarkan kemampuannya. Video games menciptakan hierarki keterampilan dan kemampuan, menciptakan sebuah kondisi yang menguntungkan perkembangan kepemimpinan. Seorang anak mampu mengatur tugas-tugas yang diperlukan sehingga bisa berhasil dan menjadi lebih cerdas dalam memimpin kerja kelompok di sekolah. Baru-baru ini, games online bersam orang lain telah menciptakan jenis-jenis games yang keseluruhannya baru dengan jaringan sosial yang luas dan rumit. Anak menganggap orang yang tidak pernah melihat sebagai teman dekat. Dengan mengetahui seseorang secara tepatmelalui sebuah games, anak belajar tentang orang itu tanpa ada sikap mendangkalkan. Dengan tidak melihat teman-teman mereka, anak tidak mempertimbangkan ras, gender, atau kebangsaan. Itu benar-benar hubungan terbuka dengan mendasarkan pada kepentingan bersama.
Terakhir, video games berbau kekerasan mungkin bertindak sebagai sebuah pelepasan rasa agresi yang tidak terekspresikan dan rasa frustasi. Tidak ada kejahatan dalam menembak anak orang lain dalam suatu video games, tapi akan menjadi menjadi akibat yang serius jika tindakan tersebut dilakukan dalam kehidupan nyata. Dengan menyediakan anak saluran pelepasan kemarahannya dalam suatu cara yang kontruktif, video games mampu mengurangi stres anak dan bertindak pada jalur yang positif. Anak tidak lagi melempar kemarahannya atau memerangi saudaranya tapi secara pasif melampiaskan frustasi mereka pada dunia virtual. Banyak orang tua menganjurkan bermain games olahraga seperti sepak bola sebagai saluran agresinya, yang jauh lebih keras daripada bermain sebuah games. Dalam olahraga, anak dipaksa untuk secara fisik melukai seseorang. Sebagaimana Tapscott (1988) menyatakan “Membawa anak dalam suatu pengalam interaktif, mengembangkan keterampilan motor tanganmatanya, memberikan anak sebuah rasa penyelesaian, menjaga anak agar tidak terliabat di jalanan, dan hanya  mendorongnya untuk bersenang-senang, semuanya dipertimbangkan orang tua untuk bisa berharga atau , buruknya, tidak membahayakan.”

Sumber: Sokolova, Irian V., dkk.2008. Kepribadian Anak. Yogyakarta: Katahati.

0 comments:

Post a Comment

Free Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Website templateswww.seodesign.usFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver