SELAMAT DATANG DI BLOK SAYA! SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA BERMANFAAT!!
RSS

TEORI ALBERT BANDURA



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses yang kompleks ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku, bersifat relatif permanen dan prosesnya ditandai dengan adanya interaksi dengan lingkungan sekitar pebelajar baik lingkungan alam maupun sosial budayanya. Berkaitan dengan hasil dari belajar yang dialami ada teori belajar yang sering diterapkan dalam dunia pendidikan yaitu teori belajar behavioristik walaupun ada juga yang telah mengaplikasikan berbagai teori belajar yang ada..
Pengetahuan dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan, begitu dengan pendidikan. Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber antara lain pengalaman pribadi, pendapat ahli, tradisi, intuisi, penalaran dan keyakinan benar salah. Dari penjelasan ini jelas pengetahuan merupakan segala sesuatu yang ditangkap oleh manusia mengenai obyek sebagai hasil dari proses mengetahui baik melaui indra maupun akal.
Perkembangan pengetahuan sejalan dengan perkembangan berbagai teori belajar, karena pengetahuan salah satunya diperoleh dengan belajar, sehingga tidak mustahil bermunculan teori-teori belajar antara lain teori belajar kognitifisme, humanistik, behaviorisme dan lain-lain, yang masing-masing teori mempunyai kelemahan dan kelebihan.
Mencermati berbagai teori-teori belajar dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Albert Bandura, dalam teorinya menjelaskan hubungan timbal balik yang saling berkesinambungan antara kognitif , perilaku ,dan lingkungan.Berdasarkanteoriini, kondisi lingkungan sekitar kita sangat berpengaruh terhadap perilaku kita.Lingkungan kiranya memberikan posisi yang besar dalam kehidupan sosial kita sehari hari.Lingkungan dapat pula membentuk kepribadian kita.
Di dalammakalahiniakanmembahaslebihlanjuttentangteoribelajarsosial, besertahal-hal yang berkaitandenganteoribelajarsosial.Disampingitu, jugaakanmembahastentanghubunganantarabehavioral, environment, dan perception sangatlah memberikan andil dalam proses pembelajaran sosial kita

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanalatar belakang teoriperkembangansosial?
2.      Bagaimana teori pembelajaran sosialmenurut Bandura?
3.      Apasajaprinsip-prinsip yang mendasari teori belajar sosial?
konsep-konseppenting dalam kepribadian menurut Bandura?
4.      Bagaimanapembelajaran pengamatan dalam teoribelajarsosialBandura?  
5.      Apasajakelebihan teori Albert Bandura?
6.      Apasaja kelemahan teori Albert Bandura?

C.  TujuanPenulisan
1.        Dari rumusanmasalahdiatas, tujuanpenulisanmakalahadalah:Mengetahuilatar belakang teoriperkembangansocial
2.        Mengetahuiteori pembelajaran sosial menurut Bandura
3.        Mengetahuiprinsip-prinsip yang mendasari teori belajar sosial
                   konsep-konseppenting dalam kepribadian menurut Bandura
4.        Mengetahuibagaimanapembelajaran pengamatan dalam teoribelajarsocial Bandura
5.        Mengetahuikelebihan teori Albert Bandura
6.        Mengetahuikelemahan teori Albert Bandura

D.  ManfaatPenulisan
Memberikan pengetahuan dan informasi bagi para pembacatentangteoriperkembanganbelajarsosial. Disampingitu, jugauntukmenambahwawasanbagiparapembaca, khususnyabagipenulistentangteoriperkembanganbelajarsosial yang dikemukakanoleh Albert Bandura danhal-hal yang berkaitandenganteoritersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Latar Belakang Teori
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial ( Social Learning Teory ) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Ia seorang psikologi yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.Teorikognitifsosial(socialcognitivetheory) yang dikemukakan oleh Albert Banduramenyatakanbahwafaktorsosialdan kognitif serta faktor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/ penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan, faktor sosial mencakuppengamatansiswaterhadap perilakuorangtuanya.AlbertBanduramerupakansalahsatu perancangteori kognitif sosial. Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapatmerepresentasikan atau mentrasformasipengalamanmereka secara kognitif. Bandura mengembangkan modeldeterministicresipkoralyangterdiridaritigafaktorutamayaituperilaku, person/kognitifdanlingkungan.Faktorinibisasalingberinteraksidalamprosespembelajaran. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhilingkungan,faktorperson/kognitif mempengaruhi perilaku.FaktorpersonBanduratidak punyakecenderungankognitifterutamapembawaanpersonalitasdantemperamen.Faktorkognitifmencakupekspektasi,keyakinan,strategipemikirandankecerdasan.
DalammodelpembelajaranBandura,faktorperson(kognitif) memainkanperanan penting.Faktorperson(kognitif) yangdimaksudsaatiniadalahself-efficasyatauefikasi diri. Efikasi diri merupakan keyakinan pada kemampuandiri sendiriuntukmenghadapidan memecahkanmasalah denganefektif. Efikasidirijugaberartimeyakinidirisendirimampuberhasildansukses.Individudenganefikasidiritinggimemilikikomitmendalammemecahkanmasalahnyadantidak akanmenyerahketikamenemukanbahwastrategiyangsedangdigunakanitutidakberhasil.Menurut Bandura,individuyangmemilikiefikasidiriyangtinggiakansangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena ia memilikikepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Banduraakan cepatmenghadapimasalahdanmampu bangkitdarikegagalanyangia alami.
Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap oranglain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Contohnya, seseorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik.

B.  Teori Pembelajaran Sosial
Teori Pembelajaran Sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik), yang menekankanpadaperilaku, lingkungandanfaktorkognisisebagaikuncidalamperkembanganindividu. Secaraumum, teoriinimengatakanbahwamanusiabukanlahseperti robot yang tidakmempunyaipikirandanmenurutsajasesuaidengankehendakpembuatnya.Namun, manusiamempunyaiotak yang dapatberfikir, menalar, danmenilai, ataupunmembandingkansesuatusehinggadapatmemiliharahbagidirinya. Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura . Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip – prinsip, teori – teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada kesan dan isyarat – isyarat perubahan perilaku, dan pada proses – proses mental internal.
Teori belajar sosial menekankan bahwa lingkungan – lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan ; lingkungan – lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Inti dari pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.Sebagaicontoh, anak yang bertingkahagresifdengantemannyaatauselalumenyeranganaklain, baiksecara verbal maupunfisik, merupakanhasiladopsi orang disekelilingnya, apakahitu orang tua, teman, atautokoh-tokoh di media.

C.      Prinsip-prinsip yang Mendasari Teori Belajar Sosial
Adapun prinsip-prinsip yang mendasari teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Bandura, yaitu:
     1) prinsip faktor-faktor yang saling menentukan;
2) kemampuan untuk membuat atau memahami simbol/tanda/lambang;
3) kemampuan berfikir kedepan;
4) kemampuan untuk seolah-olah mengalami apa yang dialami oleh orang lain;
5) kemampuan mengatur diri sendiri;
6)  kemampuan untuk berefleksi
                       
1) Prinsip faktor-faktor yang saling menentukan
Bandura menyatakan bahwa diri seorang manusia pada dasarnya adalah suatu sistem (sistem diri/self system). Sebagai suatu sistem bermakna bahwa perilaku, berbagai faktor pada diri seseorang, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam lingkungan orang tersebut, secara bersama-sama saling bertindak sebagai penentu atau penyebab yang satu terhadap yang lainnya.Teori belajar sosial menekankan observational learning sebagai proses pembelajaran, yang mana bentuk pembelajarannya adalah seseorang mempelajari perilaku dengan mengamati secara sistematis imbalan dan hukuman yang diberikan kepada orang lain.Dalam teori menjelaskan hubungan timbal balik yang saling berkesinambungan antara kognitif , perilaku ,dan lingkungan.
Kondisi lingkungan sekitar kita sangat berpengaruh terhadap perilaku kita.Lingkungan kiranya memberikan posisi yang besar dalam kehidupan sosial kita sehari hari.Lingkungan dapat pula membentuk kepribadian kita.Dalam skema diatas dapat kita lihat,bahwa antara behavioral, environment, dan perception sangatlah memberikan andil dalam proses pembelajaran sosial kita.Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi perilaku kita,dan perilaku pribadi kita akan menimbulkan reaksi dari orang lain.Begitu pula dengan lingkungan, keadaan lingkungan sekitar kita akan mempengaruhi perilaku kita.Keadaan lingkungan akan menimbulkan reaksi – reaksi tersendiri dari individu tersebut.Yang dapat memberikan stimulus terhadap individu untuk melakukan sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat , cermati , dalam lingkungan tersebut.
Kemudian reaksi – reaksi yang ditunjukkan oleh individu tersebut akan memberikan penilaian tersendiri terhadap dirinya sendiri,dan karakteristik dari individu tersebut akan memberikan penilaian tersendiri dari orang lain.Dari keadaan lingkungan sekitar yang kita lihat dan reaksi – reaksi dari individu akan  memberikan pengaruh terhadap persepsi dan aksi kita akan stimulus yang diperlihatkan di dalam lingkungan tersebut.Persepsi timbul karena ada stimulus dari orang lain maupun dari lingkungan sekitar kita.
Jadi antara behavioral, environment, dan perception sangatlah bergantung satu sama lain,ketiga komponen tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Namun antar ketiga komponen itu saling memberikan pengaruh atau saling memberikan perannnya dalam terlaksananya teori pembelajaran sosial.Komponen – komponen tersebut saling berhubungan antar komponen yang lain ,dan saling timbal balik, menerima dan memberi.Tidak akan tercipta pembelajaran sosial jika tidak ada lingkungan , individu , dan aksi reaksi sebagai akibat dari adanya stimulus yang ada.
2)Kemampuan untuk membuat atau memahami simbol/tanda/lambang
Bandura menyatakan bahwa orang memahami dunia secara simbolis melalui gambar-gambar kognitif, jadi orang lebih bereaksi terhadap gambaran kognitif dari dunia sekitar dari pada dunia itu sendiri. Artinya, karena orang memiliki kemampuan berfikir dan memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk berfikir, maka hal-hal yang telah berlalu dapat disimpan dalam ingatan dan hal-hal yang akan datang dapat pula “diuji” secara simbolis dalam pikiran. Perilaku-perilaku yang mungkin diperlihatkan akan dapat diduga, diharapkan, dikhawatirkan, dan diuji cobakan terlebih dahulu secara simbolis, dalam pikiran, tanpa harus mengalaminya secara fisik terlebih dahulu. Karena pikiran-pikiran yang merupakan simbul atau gambaran kognitif dari masa lalu maupun masa depan itulah yang mempengaruhi atau menyebabkan munculnya perilaku tertentu.
3) Kemampuan berpikir ke depan
Selain dapat digunakan untuk mengingat hal-hal yang sudah pernah dialami, kemampuan berpikir atau mengolah simbol tersebut dapat dimanfaatkan untuk merencanakan masa depan. Orang dapat menduga bagaimana orang lain bisa bereaksi terhadap seseorang, dapat menentukan tujuan, dan merencanakan tindakan-tindakan yang harus diambil untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Inilah yang disebut dengan pikiran ke depan, karena biasanya pikiran mengawali tindakan.
4) Kemampuan untuk seolah-olah mengalami apa yang dialami oleh oranglain
Orang-orang, terlebih lagi anak-anak mampu belajar dengan cara memperhatikan orang lain berperilaku dan memperhatikan konsekuensi dari perilaku tersebut. Inilah yang dinamakan belajar dari apa yang dialami orang lain.
5) Kemampuan mengatur diri sendiri
Prinsip berikutnya dari belajar sosial adalah orang umumnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri. Seberapa giat orang bekerja dan belajar, berapa jam orang tidur, bagaimana bersikap di muka umum, apakah orang mengerjakan pekerjaan kuliah dengan teratur, dan sebgainya, adalah contoh perilaku yang dikendalikan. Perilaku ini tidak dikerjakan tidak selalu untuk memuaskan orang lain, tetapi berdasarkan standar dan motivasi yang ditetapkan diri sendiri. Tentu saja orang akan berpengaruh oleh perilaku orang lain, namun tanggung jawab utama tetap berada pada diri sendiri.
6) Kemampuan untuk berefleksi
Prinsip terakhir ini menerangkan bahwa kebanyakan orang sering melakukan refleksi atau perenungan untuk memikirkan kemampuan diri mereka pribadi. Mereka umumnya mampu memantau ide-ide mereka dan menilai kepantasan ide-ide tersebut sekaligus menilai diri mereka sendiri. Dari semua penilaian diri sendiri itu, yang paling penting adalah penilaian terhadap beberapa komponen atau seberapa mampu mereka mengira diri mereka dapat mengerjakan suatu tugas dengan sukses.





D. Konsep-Konsep Penting dalam Kepribadian menurut Bandura
1)Efikasi Diri (Self Efficacy)
 Self-efficacy adalah ekspektasi keyakinan (harapan) tentang seberapa jauh seseorang mampu melakukan satu perilaku dalam suatu situasi tertenu. Self-efficacy yang positif adalah keyakinan untuk mampu melakukan perilaku yang dimaksud. Tanpa Self-efficacy (keyakinan tertentu yang sangat situasional), orang bahkan enggan mencoba melakukan suatu perilaku. Menurut Bandura  menyatakan self-efficacy menentukan apakah kita akan menunjukkan perilaku tertentu, sekuat apa kita dapat bertahan saat menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan bagaimana kesuksesan atau kegagalan dalam satu tugas tertentu mempengaruhi perilaku kita di masa depan.
Keyakinan tentang self-efficacy adalah hasil dari 4 jenis informasi, yaitu: (1) pengalaman kita dalam melakukan perilaku yang diharapkan atau perilaku yang serupa (kesuksesan dan kegagalan di masa lalu); (2) melihat orang lain melakukan perilaku tersebut atau perilaku yang kurang lebih sama (vicarious experience); (3) persuasi verbal (bujukan orang lain yang bertujuan untuk menyemangati atau menjatuhkan performa); dan (4) apa perasaan kita tentang perilaku yang dimaksud (reaksi emosional). 
Bandura juga telah mempraktekkan konstruk self-efficacy dalam bidang kesehatan. Self-efficacy terkait dengan aspek fisiologis kesehatan. Orang yang tidak memiliki self-efficacy mengalami stress yang berdampak pada kesehatan dan sistem imunnya. Self-efficacy juga terkait dengan potensi individu untuk berperilaku sehat, orang yang tidak yakin bahwa mereka dapat melakukan suatu perilaku yang dapat menunjang kesehatan akan cenderung enggan mencoba.Duakomponendalamself-efficacy adalah:
a.Outcome Expectations
Outcome expectations : perkiraan individu bahwa suatu outcome tertentu akan muncul dan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan
b.Efficacy expectations
Beliefbahwa ia bisa melakukannya atau tidak.Ditekankan bahwa self efficacy sangat berpengaruh dalam tingkah laku seseorang. Segala tingkah laku, bisa tingkah laku dalam bekerja, akademis, rekreasi, sosial dipengaruhi oleh self efficacy.Expectancy adalah variabel kognitif dalam hubungan antara stimulus dan respon. Outcome expectancy adalah antisipasi dari hubungan yang sistematik antara kejadian-kejadian atau objek-objek dalam suatu situasi. Bentuknya adalah “jika-maka” antara perilaku dan hasilnya. Gagalnya suatu peristiwa mengikuti bentuk “jika-maka” yang ada dalam pola pikir individu, maka jika harapan dari individu terlalu tinggi dan tidak dapat tercapai, individu tersebut akan lebih mudah mengalami gangguan karena ketidaknyamanan yang ia alami.
2)  Regulasi Diri (Self Regulation)
Regulasi diri adalah proses dimana seseorang dapat mengatur pencapaian dan aksi mereka sendiri, menentukan target untuk diri mereka, mengevaluasi kesuksesan mereka saat mencapai target tersebut, dan memberi penghargaan pada diri mereka sendiri karena telah mencapai tujuan tersebut. Konsep self-efficacy adalah elemen penting dari proses ini, yang mempengaruhi pilihan target dan tingkat pencapaian yang diharapkan.  Yang juga penting adalah skema yang individu miliki, yang mendasari bagaimana orang memahami dan berperilaku dalam lingkungannya. Konstruk regulasi diri menitikberatkan pada kontrol internal (interpersonal) perilaku kita. Proses regulasi diri memiliki relevansi yang luas terhadap banyak bidang, terutama bidang kesehatan dan pendidikan, yang merupakan bidang di mana pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana orang melatih kontrol perilaku mereka sendiri akan berdampak pada meningkatnya keberhasilan masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

E.Pembelajaran Pengamatan (Observational Learning) dalam Teori Belajar Sosial Bandura
Karakteristik dari belajar sosial, yang terbukti sangat penting dan efisien seorang dapat belajar dengan cara memperhatikan model beraksi dan membayangkan seolah-olah ia sebagai pengamat, mengalami sendiri apa yang dialami oleh model.  Yang disebut model adalah orang-orang yang perilakunya dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Dari sudut pandang Bandura, orang/pengamat tidak hanya sekedar meniru perilaku orang lain (model), namun mereka memutuskan dengan sadar untuk melakukan perilaku yang dipelajari dari mengamati model.
Menurut Bandura, mengamati model dan mengulangi perilaku yang dilakukan oleh model bukanlah sekedar imitasi sederhana; pembelajaran observasi juga melibatkan proses kognitif aktif yang meliputi 4 komponen yaitu: atensi, retensi, reproduksi dan motivasi.
Lebih jauh lagi, analisis Bandura  tentang pembelajaran pengamatan (observational learning) menjelaskan mengenai keterlibatan empat fase dalam pembelajaran ini, yaitu:
a)   Fase Perhatian
Fase pertama dalam pembelajaran pengamatan ialah memberikan perhatian pada orang yang ditiru. Pada umumnya, seseorang memberikan perhatian pada panutan yang memikat, berhasil, menarik, dan popular. Sebagai pengamat orang tidak dapat belajar melalui observasi kecuali jika ia memperhatikan kegiatan-kegiatan yang diperagakan oleh model itu sendiri dan benar-benar memahaminya. Ini tergantung seberapa besar dan menjolok mata perilaku yang diperagakan itu. Perilaku yang sederhana dan menjolok mata lebih mudah diperhatikan daripada yang tidak jelas. Juga tergantung pada apakah si pengamat siap untuk memperhatikan perilaku-perilaku yang diperagakan itu terutama ketika banyak hal lain yang bersaing untuk mendapatkan perhatian si pengamat.
Proses memberikan perhatian tergantung pada kepada kegiatan apa dan siapa modelnya yang bersedia untuk diamati, misalnya jika anak-anak dibesarkan dalam rumah tangga yang selalu bertengkar maka kemungkinan besar mereka akan mudah bertindak kasar dan agresif pula, perilaku yang demikian akan lebih akan lebih menarik perhatian dari anak tersebut. Menurut Panen (2005:4.10) menyatakan bahwa,
Untuk menerapkan teori belajar sosial dan memastikan siswa memberi perhatian yang lebih pada prilaku yang dimodelkan, maka guru sebaiknya mengusahakan untuk: (1) menekankan bagian-bagian penting dari perilaku  yang dipelajari untuk memusatkan perhatian siswa, (2) membagi-bagi kegiatan besar menjadi bagian-bagian kecil, (3) memperjelas ketrampilan-ketrampilan yang menjadi komponen-komponen perilaku, (4) memberi kesempatan untuk siswa mempraktikkan hasil pengamatan mereka begitu mereka selesai dengan satu topik.
b)   Fase Pengingatan (retensi)
Agar dapat mengambil manfaat dari perilaku orang lain yang telah diamati, seorang pengamat harus dapat mengingat apa yang yang telah dilihatnya. Dia harus mengubah informasi yang diamatinya menjadi bentuk gambaran mental, atau mengubah simbol-simbol verbal, dan kemudian menyimpan dalam ingatannya. Akan sangat membantu apabila kegiatan yang ditiru segera diulanginya atau dipraktekkan setelah pengamatan selesai. Pengamat tidak perlu melakukan pengulangan atau mempraktekkan secara fisik tetati dapat saja secara kognitif, yaitu: membayangkan, memvisualisasikan perilaku tersebut dalam pikirannya.
c)   Reproduksi
Komponen ketiga dalam proses peniruan adalah mengubah ide gambaran, atau ingatan menjadi tindakan. Umpan balik terhadap hasil belajar dalam bentuk perilaku yang diperlihatkan oleh pengamat dapat menjadi alat bantu yang penting dalam proses ini. Umpan balik ini dapat dilakukan lewat observasi diri dan masukan dari pelatih, guru, dan modelnya sendiri.Contohnya, mengendarai mobil, bermain tenis. Jadi setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan.
d)   Fase Motivasi
Tahap terakhir dalam proses pembelajaran pengamatan ialah motivasi. Orang tidak akan memperagakan atau melaksanakan setiap hal yang dipelajarinya lewat proses pengamatan. Siswa akan meniru orang yang ditiru karena mereka percaya bahwa tindakan seperti itu akan meningkatkan peluang mereka sendiri dikuatkan. Umumnya seorang pengamat akan cenderung untuk memperagakan perilaku yang ditirunya jika hal tersebut menghasilkan hal yang berharga atau diiinginkan oleh pengamat tesebut. Pengamat cenderung tidak memperagakan perilaku yang mengakibatkan munculnya hukuman atau bila ia tidak mendapat hadiah dari perbuatan tersebut.Motivasi inijuga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu.Jadi subyek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan.

F.Kelemahan Teori Albert Bandura
Jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya melalui peniruan ( modeling ), sudah pasti terdapat sebagian individu yang menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yangnegatiftermasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.

G. Kelebihan Teori Albert Bandura
Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya , karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata – mata reflex atas stimulus ( S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan kognitif manusia itu sendiri.
Pendekatan teori belajar sosial lebih ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasan merespon) dan imitation ( peniruan ). Selain itu pendekatan belajar sosial menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan anak – anak. Penelitian ini berfokus pada proses yang menjelaskan perkembangan anak – anak, faktor sosial dan kognitif.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
Teori Belajar Sosial , Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang ahli psikologi pendidikan dari Stanford University,USA. Teori pembelajaran ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang mengalami pembelajaran dalam lingkungan sekitarnya.
 Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.Dimana, faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhilingkungan,faktorperson/kognitif mempengaruhi perilaku.
Konsep-konsep penting dalam kepribadian menurut Banduraterdiridariefikasi diri (Self Efficacy) yang terbagimenjadiOutcome ExpectationsdanEfficacy expectations, sertaregulasi diri (Self Regulation).
Analisis Bandura  tentang pembelajaran pengamatan (observational learning) menjelaskan mengenai keterlibatan empat fase dalam pembelajaran ini, yaitu: fase perhatian, fase pengingatan (retensi),reproduksi, dan  fase motivasi.

B.     Saran
Menurutteoribelajar social lingkungan memang sangat berperan dalam membentuk perilaku kita, namun niat dan keteguhan hati kita juga berperan disini. Artinya, meskipun kita berada dalam lingkungan yang tidak  baik, tetapi jika kita dapat mengendalikan diri kita, maka kita juga tidak akan terjerumus begitu pula sebaliknya
Selainitu,dalampembentukan tingkah lakumelaluiteknikpeniruan( modeling ),kitaharuspandai-pandaimemilihhal-hal yang baikuntukditirudan yang tidakbaikuntukditiru. Hal inibertujuan agar tidakterdapat tingkah laku yangnegatifyang ikutditiru.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, maka dari itu kami mengharapkaan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Eka, Izzaty Rita, dkk, 2008.PerkembanganPesertaDidik. Yogyakarta: UNY Pers.
JokoWinarto.2011.Teori Belajar Sosial Albert Bandura(Online)(http://www.referensimakalah.com/2012/09/pengertian-pornografi-dan-pornoaksi.html, diakses,15 Maret 2012. 10.10).
Sumantri, Mulyani.2011. PerkembanganPesertaDidik. Jakarta: Universitas Terbuka.

SyilgaCahya Gemini.2012.TeoriBelajarSosial Bandura (Online), (http://syilgagemily.blogspot.com/2012/06/teori-belajar-sosial-bandura.html, diakses,15Maret 2012.09.15)
Panen, Paulina, dkk. 2005. Belajar dan Pembelajaran 1. Jakarta: UniversitasTerbuka.

0 comments:

Post a Comment

Free Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Website templateswww.seodesign.usFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver